Kamis, 08 November 2012

Cerpen Untaian Kata untuk Ayah

Untaian Kata untuk Ayah

Aku mendengarkan sebuah lirik lagu di telepon genggamku tak terasa syair lagu menyentuh kalbu yang membuatku hanyut dalam sebuah kenangan. Kuhelahkan

nafasku di balik bibirku yang mungil dan akhirnya mataku terpejam terlelap dalam tidur yang tak kuketahui.
Perkenalkan, aku adalah seorang anak berumur 14 tahun yatim piatu tanpa mengenal namanya kasih sayang seorang ibu, tapi aku sangat mengenal kasih sayang

seorang ayah sampai usiaku 11 tahun. Tak ada yang kuingat tentang ibuku selain sebuah album foto yang tersimpan dialmari. Ayahku bercerita waktu ibu meninggal

usiaku baru menginjak 2 bulan.

Ada kadang perasaan terselip sedih dalam diriku ketika aku melihat anak seusiaku jalan bergandengan bersama ibu dan ayahnya. Pernah suatu ketika mataku

melihat seorang ibu menyisirkan rambut anaknya. Begitu romantisnya kulihat pemandangan itu, seandainya aku masih punya ibu mungkin ibu akan melakukan hal yang

sama terhadap diriku ini, lama kupandangi antara ibu dan anak itu sampai tanpa kusadari air mataku menetes dari kedua pelupuk mataku.

Rupanya ayah memerhatikan diriku sejak tadi, ayah langsung menggendongku, dia usap air mataku yang sempat menetes. “Anak gadis ayah, mau beli es krim” hibur

ayahku, kalo melihat gadis kecilnya lagi sedih. Lalu kujawab dengan aggukan kepala. Sambil berjalan ke warung yang tak jauh dari rumahku ayah terus

menggendongku, “Nong, kangen sama ibu ya?” kata ayahku sambil berjalan melangkah kewarung, tapi aku jawab lagi dengan anggukan kepala.
“Ibu, sekarang sudah disurga, ibu juga kangen sama Nong, makanya Nong harus berdo’a untuk ibu” ucap ayahku.

Bagaimana do’a untuk ibu,”kata ayahku” lalu bibir kecilku terus berucap,” ya Allah ampunilah seluruh dosa-dosa ibu, terangilah kuburnya dengan cahaMU,

lapanganlah kuburnya, masukan ibu kedalam surgaMU secepat kilat, ya Allah Nong kangen sama ibu.. amien. Inilah do’a yang selalu diajarkan ayah sebelum aku

tidur. Untuk melepaskan kerinduanku kepada ibu

Di sekolah, aku termasuk siswa yang cerdas, aku selalu dapat rangking disekolahku. Setiap kenaikan kelas sewaktu aku masih duduk disekolah dasar, orang tua

atau wali murid yang harus mengambil rapor kesekolah. Ayahku pasti datang untuk mengambil raporku walaupun ayah sesibuk apapun. Ayahku selalu bangga dengan

prestasi sekolahku, aku masih ingat perkataan ayah, selalu bilang jadilah anak yang selalu membanggakan.

***

Nafasku terpatah-patah seperti lari yang tak terukur jauhnya, sedangkan ku terbaring diatas kasur yang kakiku kaku tidak bisa tegerakan. Entah mengapa malam ini

aku bermimpi yang membuat mulutku terisak-isak sampai mengeluarkan buliran bening dikelopak mataku yang tak sanggup kutahan.

Didalam mimpiku kumelihat lelaki berbaju putih di kejauhan fana yang mirip dengan sosok lelaki yang sangat dekat dengan kehidupanku. Dia datang dengan

kelembutan sambil membelai dan mengusap kepalaku dengan mesranya. Aku berteriak ingin memanggilnya tapi mulutku seakan tersumbat. Lelaki itu membisikkan

ketelingaku dengan lembut sambil tersenyum.

“Ayah, sekarang dengan ibu sudah jauh diatas langit, Ibu di surga dan ayah ingin menyusul ibu disana”. Ayah ingin lama berada disismu tapi waktu telah memisahkan

kita, tapi yakinlah kelak kita akan bersua dalam keadaan yang tak terpisahkan lagi, Ayah sangat mencintaimu, jadilah anak yang selalu membanggakan ayah”
Aku terjaga dari tidurku, mataku berpaling kearah jarum jam yang berada di dinding kamar tidurku, kulihat disitu baru pukul 04 pagi.“rupanya mimpi, ooh

syukurlah,” gumam kecilku dalam hati.

Kuambil bantal gulingku lagi yang sempat terjatuh kelantai, maklum aku memang tidur agak lasak. Ku coba pejamkan mataku ini lagi, agar terbuai dalam tidur yang

nyenyak, akan tetapi baru dalam hitungan menit, tiba-tiba kudengar seperti orang yang berbicara diluar dinding bilik tidurku, matakupun reflek terbuka menatap

langit-langit kamar, kusimak suara siapa yang lagi bicara diluar.

“kak.. ! Ayah sakit keras, kakak pulanglah.. sekarang Ayah lagi dijalan dibawa pakai mobil ambulance kerumah sakitnya..
Ooo..rupanya kakakku lagi nelepon kakakku yang tinggal diluar kota, tapi kenapa dengan ayah,”ujarku dalam hati.”
Aku segera turun dari ranjangku, ku buka pintu kamar lalu kakiku melangkah mendekati kakakku yang sedang menelpon tadi. Kudengarkan saja mereka berdua

bicara walaupun melalui telepon. Kata kakakku yang diluar kota dia akan segera pulang pagi itu juga.

***

Kegelisahanku membuncah tak karuan, ingin rasanya aku berlari keluar mengejar mobil ambulance yang membawa ayahku pergi. Aku tak rela ayahku pergi tanpa

ada diriku disisi ayah, apalagi ayah dalam keadaan ayah sakit.

“Kak ! panggilku kepada kakakku.

“Jam berapa ayah sakit tadi ?”

“Sekitar jam dualah, ayah mulai sakit”

“Ko’ Nong tak dibangunin tidur tadi?”

“Nong besokan sekolah, makanya ndak kakak bangunin,paling kalo Nong dah bangun baru

kakak kasih tahu”.

“Parah sakit ayah kak?”

“Ndak tahu kakak dik, kita tunggu ajalah kabarnya dari bang Budi dia ikut dalam mobil

ambulance”

“Ooo..iyalah kak. Sahutku lagi walaupun pikiran dan hatiku tidak tenang membayangi wajah ayah.
***
Apa, ayah meninggal,”ujar kakakku yang dapat telpon dari abangku di mobil ambulance. Mendengar itu hatiku serasa hancur, bumi berguncang hebat, dunia ini

hampa kurasa. Tangisan tanpa kukomandopun ikut datang tanpa bisa kubendung lagi. Bagaimana mungkin, malam tadi ayah baru bercanda denganku

meninggalkanku dipagi ini, rasanya sulit kupercaya.

Saat mobil ambulance tiba, kulihat sesosok tubuh diangkat kedalam rumah, tiada kata yang terucap dibibirku. Perlahan aku berjalan kearah sosok itu.Kubuka

kain yang menutup wajahnya. Sontak, aku menangis sejadi-jadinya, mengapa aku tidak berada disisinya di saat-saat terakhirnya. Meski air mataku terus mengalir,

kulihat senyum dari sosok yang tak bernyawa itu, ayah, istiratlah.

***
Aku baru menyadari bahwa malam tadi ayahlah datang dalam mimpiku, engkau sangat hebat ayah, disaat terakhir engkau masih sempat datang membelai kepalaku

dengan lembut. Ayah aku juga sangat mencintaimu.

***
Di kebisuan malam ini, tiada kata yang keluar, hanya sebuah kenangan yang ada dalam benakku. Kutatap langit dengan rembulan indah, yang ditemani bintang

bertaburan. Begitu teduh hatiku, seakan terbang bersama angin malam. Ingin kuintip dirimu di balik rembulan, hanya untuk melepas rindu walau sekejap.

***
Awan berarak, dibuai sang bayu, lambaian tangan pepohonan bergerilya dikediaman malam, kuambil secarik kertas kutulis untaian kata ungkapan hati yang

bertintakan biru..

Kerinduan menusuk kalbu..
Tiada tahan terpendam di palung hati
Ayah... dikesunyian ini aku rindu
Apakah ayah rindu juga kepadaku? seperti aku merindukanmu..
Ayah, datanglah menjelma walau dalam impian..
Lantunkanlah nada indah nasihatmu ditelingaku
Lambaikanlah tanganmu untuk membelai rambutku.
Ayah, aku lagi sepi, aku ingin memelukmu..
Aku ingin berkata-kata denganmu.

Ayah, seandainya engkau datang dalam impiaku.

Akan kuucapkan bahwa aku sangat menyayangi ayah

***
Sekarang tepat tiga tahun setelah kepergianmu ayah. Aku datang ayah, tepat dihadapanmu aku berdiri, walau hanya gundukkan tanah yang ada dihadapanku,

aku yakin engkau melihat anakmu ini. Lantunan al-fatiha dan do’a yang bisa kupersembahkan buat ayah. Dalam do’aku semoga ayah berada ditempat yang layak di

sisinya, dan dalam hatiku berkata. “aku akan menjadi anak kebanggaan ayah”.

Perawang, 2011

Cerpen di atas merupakan buah karya Sofia Pulo Susa, Siswi SMPN 21 Siak, Bermastutin di Perawang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar